Museum Perumusan Naskah Proklamasi


Gedung ini didirikan sekitar tahun 1920-an dengan arsitektur Eropa. Dengan luas tanah 3.914 m2 sedangkan luas bangunannya 1.138,10 m2. Gedung ini telah dihuni oleh beberapa penghuni yang berbeda. Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah perang Pasik, gedung ini dipakai British Consult General sampai Jepang menduduki Indonesia. Saat masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang, sampai Sekutu mendarat di Indonesia September 1945. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas tentara Inggris.Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Besar Inggris sampai dengan 1981 dan pada tahun 1982 gedung ini sempat digunak

Gedung ini didirikan sekitar tahun 1920-an dengan arsitektur Eropa. Dengan luas tanah 3.914 m2 sedangkan luas bangunannya 1.138,10 m2. Gedung ini telah dihuni oleh beberapa penghuni yang berbeda. Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT. Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah perang Pasik, gedung ini dipakai British Consult General sampai Jepang menduduki Indonesia. Saat masa Pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang, sampai Sekutu mendarat di Indonesia September 1945. Setelah kekalahan Jepang, gedung ini menjadi Markas tentara Inggris.

Pemindahan status kepemilikan gedung ini terjadi dalam aksi nasionalisasi terhadap milik bangsa asing di Indonesia. Gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan dan pengelolaannya oleh Perusahaan Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1961, gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Besar Inggris sampai dengan 1981 dan pada tahun 1982 gedung ini sempat digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran. Pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Akhirnya berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 047/0/1992 tanggal 24 November 1992, gedung yang terletak di Jalan Imam Bonjol No.1 ditetapkan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi, sebagai unit Pelaksana Teknis di bidang kebudayaan berada dibawah Direktorat Jenderal Kebudaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi memiliki tujuan untuk mewujudkan pelestarian dan penanaman arti dari sebuah proklamasi untuk masyarakat Indonesia. Oleh karena itu museum perumusan naskah proklamasi memiliki cita-cita untuk mewujukan museum yang mampu melestarikan dan menanamkan nilai-nilai proklamasi bagi masyarakat dalam rangka memperkokoh jati diri, persatuan dan kesatuan bangsa. Cita-cita tersebut terimplementasikan dari ruang ruang yang ada pada Museum Naskah Proklamasi, dalam tata pamer museum ini terbagi ke dalam empat ruangan yang menceritakan kronologi peristiwa perumusan naskah proklamasi. Seperti pada ruang petama adalah tempat peristiwa persiapan perumusan naskah proklamasi. Ruangan tersebut adalah ruang tamu yang juga digunakan sebagai kantor oleh Maeda. Selain itu, di ruang ini juga digambarkan suasana menjelang proklamasi seperti pembentukan PPKI dan BPUPKI, bom Hirosima-Nagasaki dan peristiwa lainnya. Selanjutnya di ruang berikutnya, yaitu ruang kedua Soekarno-Hatta mengadakan rapat bersama di meja bundar dengan pengurus lain seperti Soediro dan B.M Diah pada pukul 3 subuh. Di ruang ini juga lah Soekarno membuat draft pertama naskah proklamasi dengan judul “Proklamasi” yang ditukis degan tangannya sendiri. Selain itu, dalam ruangan ini juga tergambarkan suasana saat Soekarno mengumandangkan proklamasi di Jl. Pegangsaan Timur. Beranjak ke ruang 4.

Dan terakhir, ruang 4 adalah ruang pameran benda-benda yang berkaitan dengan para tokoh yang hadir dalam perumusan naskah proklamasi. Benda-banda tersebut meliputi jam tanga, pulpen hingga baju-baju. Di samping itu, ruang keempat adalah ruangan dimana Sayuti Melik ditemani dengan B.M. Diah mengetikkan naskah proklamasi setelah melakukan proses pengeditan secara bermusyawarah.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Jl. Imam Bonjol No.1 Menteng, Jakpus 10310
D.K.I. Jakarta

Website : munasprok.or.id

Phone : 021-3144743

Email : munasprok@kemdikbud.go.id

Jam Buka
  • Selasa-Minggu
    08.00 - 16.00
  • Senin dan hari besar nasional (TUTUP)
Tiket Masuk
Dewasa : Rp. 2,000
Anak-anak : Rp. 1,000
Wisatawan Asing : Rp. 10,000
Pesan Kunjungan