Museum Sumpah Pemuda


Gedung Kramat 106 didirikan oleh Sie Kong Liong pada awal tahun 1990-an. Seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad ke-20, di Jakarta tumbuh pula pondokan pelajar untuk menampung mereka yang tidak tertampung diasrama sekolah atau bagi mereka yang ingin hidup lebih bebas di luar asrama yang ketat. Salah satu diantara pondokan pelajar di Jakarta adalah Gedung Kramat 106.Tahun 1925 disewakan kepada Jong Java, selain sebagai tempat tinggal, gedung tersebut digunakan juga sebagai tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan diskusi politik.September 1926, Gedung Kramat 106 dijadikan kantor PPPI dan kantor redaksi majalah PPPI, Indonesia Raja. Tahun 1928 gedung ini diberi nama Indonesische Clubgebouw (IC, Gedung Pertemuan Indonesia).Tokoh-tokoh yang pernah tinggal di gedung ini antara lain adalah Muhammad Yamin, Abu Hanifah, Amir Sjarifudin, A. K. Gani, Setiawan, Soerjadi, Mangaraja Pintor dan Assaat.Pada tahun 1928 itu pula Gedung Kramat 106 dijadikan salah satu tempat penyel

Gedung Kramat 106 didirikan oleh Sie Kong Liong pada awal tahun 1990-an. Seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad ke-20, di Jakarta tumbuh pula pondokan pelajar untuk menampung mereka yang tidak tertampung diasrama sekolah atau bagi mereka yang ingin hidup lebih bebas di luar asrama yang ketat. Salah satu diantara pondokan pelajar di Jakarta adalah Gedung Kramat 106.

Tahun 1925 disewakan kepada Jong Java, selain sebagai tempat tinggal, gedung tersebut digunakan juga sebagai tempat latihan kesenian “Langen Siswo” dan diskusi politik.
September 1926, Gedung Kramat 106 dijadikan kantor PPPI dan kantor redaksi majalah PPPI, Indonesia Raja. Tahun 1928 gedung ini diberi nama Indonesische Clubgebouw (IC, Gedung Pertemuan Indonesia).

Tokoh-tokoh yang pernah tinggal di gedung ini antara lain adalah Muhammad Yamin, Abu Hanifah, Amir Sjarifudin, A. K. Gani, Setiawan, Soerjadi, Mangaraja Pintor dan Assaat.
Pada tahun 1928 itu pula Gedung Kramat 106 dijadikan salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Gedung ini dijadikan pusat pergerakan mahasiswa sampai tahun 1934.

Tahun 1934-1937 Gedung Kramat 106 disewa Pang Tjem Jam sebagai rumah tinggal. Tahun 1937-1951 disewa Loh jing Tjoe digunakan sebagai took bunga dan pada tahun 1948-1951 difungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Hersia. Masa Revolusi Fisik, Gedung Kramat dijadikan markas pemuda pejuang. Tahun 1951-1970, disewa Jawatan Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungan karyawan.
Tahun 1973 dijadikan museum oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.

Pada 16 Agustus 1979, pengelolaan Gedung Kramat 106 diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan keluarnya SK. Mendikbud No. 029/O/1983, tanggal 7 Februari 1983, Gedung Sumpah Pemuda dijadikan UPT di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan nama Museum Sumpah Pemuda.

Foto


https://iheritage.id/img/BE/gallery/20200318923.JPG https://iheritage.id/img/BE/gallery/20200318923.JPG
Museum Sumpah Pemuda dari depan

Museum Sumpah Pemuda dari depan

Museum Sumpah Pemuda
Jl. Kramat Raya No.106, RT.2/RW.9, Kwitang, Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10420
D.K.I. Jakarta

Phone : 021 3154546

Email : museumsumpahpemuda@kemdikbud.go.id

Jam Buka
  • Selasa-Minggu
    08.00-15.00
  • Senin dan hari besar nasional (TUTUP)
Tiket Masuk
Dewasa : Rp. 2,000
Anak-anak : Rp. 1,000
Wisatawan Asing : Rp. 10,000
Pesan Kunjungan