Museum Taman Prasasti


Museum ini pada awalnya merupakan pemakaman umum bersama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha yang dibangun pada 1795 untuk menggantikan kuburan di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang museum wayang). Nisan-nisan yang dipindahkan ke Kebon Jahe Kober ditandai gengan tulisan HK (Hollandsche Kerk). Pada tahun 1974, pemakaman ini ditutup dan dpugar setahun setelahnya. Kemudian pada 9 Juli 1977 bangunan ini mulai diresmikan sebagai museum dan dibuka untuk umum. Museum ini memiliki koleksi berupa batu nisan, ornament, peti jenazah, dan kereta jenazah yang seluruhnya berjumlah 862 buah koleksi sesuai dengan hasil identifikasi tahun 2016. Museum seluas 1,3 ha ini memiliki beberapa fasilitas tambahan yang dapat digunakan untuk umum seperti toilet, musholla, dan aula serbaguna.Koleksi yang terdapat di museum ini antara lain prasasti dari zaman Belanda seperti replika prasasti Pieter Eberveld yang terkenal dengan peristiwa pecah kulit dan prasast I tokoh Belanda seperti A.V. Michiels dan J.H

Museum ini pada awalnya merupakan pemakaman umum bersama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha yang dibangun pada 1795 untuk menggantikan kuburan di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang museum wayang). Nisan-nisan yang dipindahkan ke Kebon Jahe Kober ditandai gengan tulisan HK (Hollandsche Kerk). Pada tahun 1974, pemakaman ini ditutup dan dpugar setahun setelahnya. Kemudian pada 9 Juli 1977 bangunan ini mulai diresmikan sebagai museum dan dibuka untuk umum. Museum ini memiliki koleksi berupa batu nisan, ornament, peti jenazah, dan kereta jenazah yang seluruhnya berjumlah 862 buah koleksi sesuai dengan hasil identifikasi tahun 2016. Museum seluas 1,3 ha ini memiliki beberapa fasilitas tambahan yang dapat digunakan untuk umum seperti toilet, musholla, dan aula serbaguna.

Koleksi yang terdapat di museum ini antara lain prasasti dari zaman Belanda seperti replika prasasti Pieter Eberveld yang terkenal dengan peristiwa pecah kulit dan prasast I tokoh Belanda seperti A.V. Michiels dan J.H.R. Kohler. Museum ini juga menyimpan peti mati yang pernah digunakan untuk mengangkut Jenazah presiden dan wakil presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Di dekat kedua peti tersebut terdapat tugu berbahasa Jepang yang digunakan sebagai pengingat para tentara Jepang yang tewas melawan sekutu. Sementara di depan tugu berbahasa Jepang terdapat sebuah nisan berbentuk rumah yang disebut sebagai pemakaman keluarga A.J.W. Van Delden (mantan ketua perdagangan VOC dan juru tulis di Indonesia Timur).

Beberapa koleksi unggulan lain di museum ini yaitu patung Crying Lady yang dibuat untuk mereeksikan penderitaan seorang pengantin baru yang suaminya meninggal karena malaria di Batavia, prasasti Soe Hok Gie, salah seorang pendiri MAPALA UI yang awalnya dimakamkan di Kebon Jahe Kober sebelum akhirnya dikremasi lalu abunya ditabur ke dalam kawah Mandala Wangi Gunung Pangrango, prasasti Monsingor Adami Caroli Claessens seorang pastor Katholik yang kemudian menjadi Uskup di Batavia sampai tahun 1893, prasasti Olivia Mariamne Rafes (istri Thomas Stamford Raffles), dan prasasti Marius Hulswit yang merupakan perancang Gereja Katedral Jakarta.

Museum Taman Prasasti
Jl. Tanah Abang 1 No.1, RT.11/RW.8, Petojo Selatan, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10160
D.K.I. Jakarta

Website : -

Phone : 021 3854060

Email : museumsejarah@yahoo.com

Jam Buka
  • Selasa-Minggu
    09.00 - 16.00
  • Senin dan hari besar nasional (TUTUP)
Tiket Masuk
Dewasa : Rp. 5,000
Anak-anak : Rp. 2,000
Wisatawan Asing : Rp. 5,000
Pesan Kunjungan