Sumedanglarang


Kerajaan ini didirikan di tahun 721 M oleh Prabu Tajimalela, keturunan dari raja Wretikandayun dari Kerajaan Galuh, di wilayah bekas dari Kerajaan Tembong Agung. Kerajaan ini juga pernah dikenal dengan nama Kerajaan Himbar Buana sebelum berganti nama menjadi Sumedang Larang. Sumedang Larang berstatus sebagai bagian dari Kerajaan Sunda dan Galuh antara abad ke-8 sampai abad ke-16 M, dimana penguasanya berada di bawah penguasa kedua kerajaan tersebut. Ibu kota Sumedang Larang di saat pendiriannya berada di Citembong Girang, yang saat ini masuk dalam wilayah desa Cikeusi, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang. Agama Islam mulai berkembang di wilayah ini di masa pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578 M). Di masa pemerintahannya Sumedang Larang bergabung dengan Kesultanan Cirebon. Di tahun 1578 M, anaknya yang bernama Pangeran Angkawijaya menerima pusaka Pajajaran dan dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun, dimana pusaka pemberian ini menandakan Sumedang Larang seba

Kerajaan ini didirikan di tahun 721 M oleh Prabu Tajimalela, keturunan dari raja Wretikandayun dari Kerajaan Galuh, di wilayah bekas dari Kerajaan Tembong Agung. Kerajaan ini juga pernah dikenal dengan nama Kerajaan Himbar Buana sebelum berganti nama menjadi Sumedang Larang. Sumedang Larang berstatus sebagai bagian dari Kerajaan Sunda dan Galuh antara abad ke-8 sampai abad ke-16 M, dimana penguasanya berada di bawah penguasa kedua kerajaan tersebut. Ibu kota Sumedang Larang di saat pendiriannya berada di Citembong Girang, yang saat ini masuk dalam wilayah desa Cikeusi, Kec. Darmaraja, Kab. Sumedang.

Agama Islam mulai berkembang di wilayah ini di masa pemerintahan Pangeran Santri (1530-1578 M). Di masa pemerintahannya Sumedang Larang bergabung dengan Kesultanan Cirebon. Di tahun 1578 M, anaknya yang bernama Pangeran Angkawijaya menerima pusaka Pajajaran dan dinobatkan sebagai Raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun, dimana pusaka pemberian ini menandakan Sumedang Larang sebagai penerus sah trah Kerajaan Sunda.  Menurut Babad Sumedang, wilayah Sumedang Larang dibatasi oleh Laut Jawa di utara, Sungai Cipamugas di barat, Samudra Hindia di selatan, dan Sungai Cipamali di timur. Kerajaan Sunda sendiri runtuh di tahun 1579 M setelah Pulasari ditaklukan oleh Maulana Yusuf dari Banten (Burak Pajajaran).

Runtuhnya Kerajaan Sunda menjadikan bekas wilayahnya terbagi antara Kesultanan Banten di barat dan Kesultanan Cirebon di timur. Dikarenakan terjadinya Peristiwa Harisbaya, Sumedang Larang dibawah Prabu Geusan Ulun di tahun 1585 menyatakan diri sebagai negara berdaulat dan terlepas dari Cirebon. Kemerdekaan Sumedang Larang tidaklah berlangsung lama, hanya berkisar 35 tahun. Dikarenakan keadaannya saat itu yang relatif lemah dan terjepit antara tiga kekuatan besar (Banten, Cirebon, dan Kesultanan Mataram), Prabu Aria Suriadiwangsa di tahun 1620 M memutuskan untuk bergabung dengan Mataram, dimana status Sumedang Larang diturunkan dari kerajaan menjadi Kabupaten dibawah Mataram.

Koleksi


https://iheritage.id/img/BE/content/palace/20200126960.07.01 PM.png
Keris Panunggul Naga
Topik : Senjata Tradisional
Lokasi : Jawa Barat
Media : HTML5
https://iheritage.id/img/BE/content/palace/20200126904.44.04 PM.png
Keris Nagasasra
Topik : Senjata Tradisional
Lokasi : Jawa Barat
Media : HTML5
https://iheritage.id/img/BE/content/palace/20200126843.15.13 PM.png
Pedang Ki Mastak
Topik : Senjata Tradisional
Lokasi : Jawa Barat
Media : HTML5
https://iheritage.id/public/img/BE/content/palace/20200116353.32.28 PM.png
Napak Tilas Sumedanglarang
Topik : Situs
Lokasi : Jawa Barat
Media : ebook
Sumedanglarang
Jl. Prabu Geusan Ulun No.40B Gd. Srimanganti, Sumedang – Jawa Barat
Jawa Barat

Phone : +62 261 201714

Email : info@museumprabugeusanulun.org

Jam Buka
  • Selasa - Minggu
    Tuesday to Sunday
  • Hari Libur Nasional (TUTUP)
Tiket Masuk
Gratis
Pesan Kunjungan